Sangat Disayangkan, Budaya Baca dan Cari Tahu

Sangat disayangkan ketika semua orang tidak memanfaatkan hal yang ia punya. Hampir setiap hari, berjam-jam lamanya kita tidak pernah lepas dari ponsel. Namun, apa yang dikerjakan atau dilakukan dengan ponsel pintar tersebut? Apakah sudah pintar? Oke ganti, apakah sudah bijak dalam menggunakan ponsel? Saya suka kesal dengan kisah yang akan saya bagikan kali ini, sangat disayangkan.

Baca Juga : Penindasan Verbal Jangan Pernah Lakukan

Ini adalah sebuah ungkapan kekecewaan dan sedikit kesal dalam menanggapi kejadian berikut. Jadi, setiap saya habis nulis selalu saya bagikan juga di media sosial. Setiap kali tulisan saya terbit di salah satu platform tertentu juga saya bagikan di media sosial. Dari awal memang prinsip saya begitu, memang membagikan tulisan lewat media sosial. Entah dibaca atau nggak, nggak jadi masalah. Kalau disebut pamer juga nggak apa-apa, insyallah bisa disebut pamer positif-kan ya. Karena saya nggak bisa ngasih-ngasih hal-hal lain yang manfaat ya kecuali ilmu atau tulisan, aamiin semoga. Harapannya agar orang jadi lebih tahu akan objek yang saya tulis. Atau memuaskan rasa penasaran lewat tulisan saya. Pun, mendapatkan informasi. Begitulah adanya ….

Pertama, hal saya risaukan setiap kali habis posting dan memamerkannya di media sosial adalah tentang pembaca. Awal kali ungkapan terserah ada baca atau nggak belum terpatri pada saya, nyatanya saya masih menantikan pembaca. Kira-kira mereka pada baca tulisan saya nggak ya? pada ngeh nggak sih saya ini lagi merintis jadi penulis? (semoga ya aamiin). Buka maksud apa-apa, saya kadang pengen dapat balikan dari orang lain bukan temen sesama penulis atau temen blog. Entahlah, saya mengharapkan demikian. Namun, seiring waktu masalah eksistensi itu saya kesampingkan dulu. Yang penting sudah berbagi, semoga ada yang nyantol. Dan yang terpenting saya udah nimbun amal lewat tulisan, semoga aamiin.

Kedua, ini adalah hal yang sering disayangkan dan terkadang bikin jengkel kalau udah terjadi beberapa kali. Setelah saya risau soal pembaca, sepertinya terjawab di keluhan kedua ini. Memang ada beberapa teman yang baca, ada yang chat pribadi juga kalau suka ngikutin tulisan. Ada pula yang sekilas lihat postingan tanpa mampir ke tulisan, ada pula yang terinspirasi. Bersyukur . . . Nah untuk mereka yang sering mampir saya ucapkan terima kasih, walau memang nggak ada kewajiban harus lapor ke saya kalau mereka udah pada baca. Jadi, saya suka kesel jika ada dari beberapa dari mereka yang malas baca, yah malas baca.

Contohnya seperti ini, pernah saya menuliskan tentang sistem antrean memesan tiket kereta api di Blitar. Di tulisan sudah cukup jelas, gimana sih sebenarnya pesan tiket kereta api di Blitar. Tips-tipsnya bagaimana dan bla-bla lain sudah saya tuliskan. Ide itu sendiri muncul karena saya ingin membagikan pengalaman ketika mengantre. Agar orang terdekat saya atau siapapun nggak pernah merasakan yang namanya antre lama. Kecewanya, masih saja ada yang chat personal karena mereka memang tahu saya adalah pengguna setia kereta api lokal. Bahkan ada yang telfon cuma nanya jadwal kereta. Poin pertama, ternyata nggak semua orang tahu (ngeh) dan baca postingan saya. Kedua, mereka ngeh tapi emang nggak baca. Ketiga, mereka emang malas baca dan enak tanya langsung. Keempat, mereka nggak mau susah payah nyari informasi maunya serba instan. Yah, ada internet. Hal apapun tinggal ketik dan cari, beres. Tapi, susah dan malas buat sebagian orang. Kenyataannya beberapa orang masih suka dan lebih baik bertanya kepada orang yang bersangkutan. Lha saya nulis tadi gunanya apa?

Oke mungkin memang lebih lega tanya langsung atau memang awam. Kemarin pun saat saya mengunggah tentang kuliner dan setelahnya saya cantumkan link. Satu dua bertanya masih saya ladeni menunjukkan bahwa postingan berikutnya sudah saya cantumin alamat dan informasi lengkap dari tulisan saya. Setelahnya, saya udah mulai rada kesal dan menanyakan perihal mereka baca link atau gg yang saya cantumin setelahnya. Padahal dari status yang terlihat mereka sudah melihat. Dengan santainya mereka ketawa dan bilang belum. Entah belum atau memang nggak mau baca.

Sebenarnya nggak apa, nggak patut juga saya menyalahkan ataupun kesal. Tapi, sangat disayangkan ketika sudah saya bagikan informasi yang katakanlah nggak setengah-setengah mereka masih bertanya. Memang saya harus lebih sabar dan telaten untuk menebar kebaikan. Saya harus banyak legowo ketika karya saya belum ada yang ngelirik. Mungkin memang ini yang dinamakan pencapaian sesuatu itu nggak bisa instan dan langsung waw.

Memang sekarang ini hampir semua orang memiliki ponsel pintar dengan berjumlah-jumlah kuota di dalamnya. Bahkan berapa giga sekejap saja ludes untuk memuaskan keingintahuan mereka. Namun, keinginantahuan mereka bukan pada jalur yang kiranya akan mendatangkan manfaat. Berjam-jam lamanya bercumbu dengan media sosial. Dengan segala harap kepo akan menemukan kesenangan dan kebahagiaan yang hakiki. Memuaskan, sebagai hiburan katanya. Lelah sekolah, lelah kerja, sah-sah saja bermain dan berseluncur di media sosial. Namun, yang sangat disayangkan ketidakseimbangan untuk mencari dan meraup hal-hal positif dalam menggunakan internet dan kecanggihan ponsel mereka.

Saya juga penganut setia media sosial, hampir setiap hari mainan saya adalah instagram dan youtube. Prinsip pribadi yang saya lakukan dan tekankan adalah membatasi diri sendiri dan bijak dalam bermedia sosial. Sebisa mungkin saya mengimbanginya dengan hal-hal lain. Malah saya kerap pada titik jenuh dan bosan, pelariannya adalah blog, baca novel, dan terkadang tugaslah yang membuat saya lupa.

Saya juga bukan orang yang seneng-seneng amat akan baca. Saya juga masih susah baca, pilih-pilih bacaan juga. Kiranya ada hal yang ingin saya ketahui sebisa mungkin saya cari dulu, baru ketika ada yang tidak saya pahami dan butuh penjelasan, saya pasti bertanya langsung pada yang bersangkutan. Hal sekecil itulah yang terkadang luput dari pandangan yakni menghargai orang lain. Membaca walau hanya ratusan kata yang nggak seberapa nggak mudah untuk dipupuk jadi kebiasaan. Harus telaten dan berulang.

Yah itulah sedikit curhatan saya …

Advertisements

12 thoughts on “Sangat Disayangkan, Budaya Baca dan Cari Tahu

  1. emberrrraaan suka gitu emang. padahal sudah ditulis jelas gimana-gimana. masih bae fergusonya nanya-nanya. kalau gitu kan kasihan gempi kan *yaakkk ampunn saya ketularan netizen di sosmed

    alasannya malas baca dan malas gerak cari tahu sendiri.

    tahu banget sih bikin kesalnya gimana. tapi jangan kapok buat tulisan aja veraaaa 😎😎😎

    Liked by 1 person

  2. Nahhhh setuju bangeeettt:”)
    Kadang emang awalnya nulis “terserah dibaca atau engga” tp pada akhirnya ada beberapa post yg kujadikan privat:”) atau sekadar kaya menanti nanti, ada ga ya yg komen di postku hahaha

    Masalah udh ditulis dan masih tanya itu jugaaa. Jangankan tulisan diblog, foto dgn caption pemberitahuan jg kdg org langsubg tanya ke cp PADAHAL DI CAPTION UDH DI JELASIN
    .hhhh sehati kita mbaaaa

    Liked by 1 person

    1. Iya aku msih suka penasaran sih ada yg baca nggak ya sama tulisanku. Atau hanya angin lalu saja. Karena menurutku penulis itu kdang gg ada tempat buat mereka yg emang gg tertarik sama nulisss..

      Betul bngettss kan , kerasa banget kan sbelnya hahaha

      Liked by 1 person

  3. Iyaaaa yang paling ngeselin itu adalah orang-orang yang chat nanyain hal-hal yang bisa digoogling dengan satu klik. Apalagi sekarang kalau googling dengan kata kunci macem ‘cara melakukan A’, ‘apa itu B’, dan semacamnya, udah ada semacam card jawaban gituu. Mudah banget, tapi masih pada nanya huhu

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s