Ini tentang Tulisan yang Menjadi Doa

Udah lama saya kepengen nulis ini, bagaimana sangat bersyukurnya saya bisa kembali melanjutkan kuliah yang telah lama menjadi impian saya. He semalam sudah sedikit saya singgung sih di instagram dari challenge yang kembali saya ikuti selama satu bulan untuk bercerita. Doakan yang kali ini saya benar-benar konsisten tangguh nulis sebulan. Semangat!

Saya udah siapain dari lama sih buat nulis ini, bagaimana Allah benar menjawab doa umatnya. Dimana saat itu saya udah nyerah kalau tahun 2018 atau tahun-tahun berikutnya saya nggak bakal bisa lanjutin kuliah. Sebenarnya juga potongan-potongan gimana mimpi saya tercapai ini sudah saya tulis di blog. Tapi, untuk saat ini biarkan saya kembali bercerita ya. Saya harap kalian nggak bosen hehe.

Saya itu orangnya memang suka bikin resolusi. Sebenarnya setiap hal yang akan saya lakukan sudah saya plan jauh-jauh hari. Bahkan, satu hari itu saya bakalan buat rencana atau kegiatan apa yang akan saya lakukan. Termasuk ingin melanjutkan S2 ini. Setelah lulus tahun 2016 kemarin saya udah dengan percaya diri bikin tulisan di dinding, di buku pribadi, di blog, curhat ke temen, dan mungkin secara nggak langsung sering beberin ke ortu.

Pasang surut sih emosi untuk mewujudkan mimpi ini, bahkan banyak egoisnya. Saya bahkan udah nyerah, nggak bakal lagi bikin resolusi (2018). Tapi, kuasa Allah nggak pernah salah, nggak pernah meleset.

Baca Juga : Resolusi di Tahun 2019

Tahun 2018 saya resmi menjadi mahasiswa pascasarjana di perguruan tinggi negeri, kampus saya dulu juga. Saya sangat bersyukur, Allah nggak kasih jalan mudah buat wujudin mimpi ini. Walau saya sempet down, pertama karena nggak lagi kerja. Kedua, merasa nggak berguna aja jadi anak. Ketiga, mungkin masa-masa itu pula saya ngalamin yang namanya krisis diri. Rasanya campur aduk yang sejujurnya nguras banyak pikiran. Keempat, saya nggak lolos ujian pertama karena sejatinya saya sudah lupa gimana caranya bersyukur.

Saya percaya kekuatan doa, kekuatan sebuah tulisan yang di dalamnya tercoret mimpi-mimpi saya. Di tulisan itu ada doa saya, ada mimpi saya jauh dari dalam lubuk hati. Setiap saya pandangi, saya buka kembali ada rasa yang saya sendiri terkadang suka bayangin itu jadi nyata. Kerap, saya berkhayal. Hal yang sebenarnya yang nggak sampai saya pikir bakal terwujud karena selang beberapa waktu psimis mulai menjalar di diri. Tak pernah terbayangkan sekarang saya sudah memasuki semester dua, perjalanan semester kemarin benar berlalu dengan cepat, semua hal baru saya jalani menjadi sebuah rutinitas.

Tambah saya bersyukur, saya pernah tahu cerita teman bahwa dia juga nekat buat melanjutkan kuliah. Memang rejekinya beda sama saya, kalau dia alhamdulillah mendapatkan beasiswa di saat keputusasaannya. Kalau urusan pendidikan, urusan sekolah pasti banya jalan dan pintu rejeki, yang nentuin kuasa Allah.

Saya? Saya nggak pernah nyangka orang yang telah lama pisah dengan keluarga kami datang menunaikan kewajiban beliau. Yah selama kuliah ini saya juga dibantu bapak untuk biaya merantau. Karena ayah dan ibuk pada waktu itu hanya optimis saya masuk saja dulu, biaya lain belakangan. Allah kasih saya malaikat penolong ya mereka budhe, dan bapak (keluarga).

Sebetulnya saya juga ngerasa nggak tahu diri, saya masih saja minta ke orang tua sedangkan kedua adik saya sudah mampu menghasilkan uang sendiri. Memang bukan jodoh dan rejeki saya, di saat saya ingin nyambi kuliah sama ngajar, saya harus ambil keputusan untuk memilih salah satu. Mungkin saya disuruh fokus buat kuliah saja. Dan ayah sudah mewanti-wanti sejak awal untuk fokus saja pada satu, biar cepet kelar.

Justru pintu-pintu rejeki banyak kok selama kita berusaha. Saya dapat tambahan dana dari hobby, dari nulis. Walau nggak sebarapa setidaknya saya masih bisa beli sesuatu keperluan pribadi beda dengan keperluan kuliah. Setidaknya juga, saya nambahin uang saku ketika orang tua belum bisa kirim uang. Walau nggak selalu ada, saya harus benar-benar bersyukur dan berhemat. Karena juga, sejujurnya saya sedikit kewalahan akan tugas kuliah. Mungkin semester awal masih penyesuaian.

Semester dua ini harus lebih giat, kuliah dan biayain diri sendiri. Semoga, aamiin.

Percayalah orang yang punya mimpi tahu kemana ia akan melangkah dan melanjutkan hidupnya. Dan jangan pernah takut untuk bermimpi.

Advertisements

12 thoughts on “Ini tentang Tulisan yang Menjadi Doa

  1. berrti bener kata pak soekarno, beranilah bermimpi. bermimpilah yang tinggi. jika kau jatuh? maka kau akan jatuh di antara bintang – bintang. memang gaada yg sia sia dg merajut mimpi, asal ada doa dan keyakinan kuat 😁

    Liked by 1 person

  2. Semangat semangaaat mbak veraaa. Insyaa Allah banyak keberkahan yang akan diperoleh di tahun ini. πŸ˜ƒ

    Hasil nggak akan membohongi usaha kok. Mbak udah gigih ikhtiar, doa di awal, akhir, dan sepanjang berikhtiar. Udah ditulis, divisualisasikan mimpi-mimpinya. Semestakung! 😍

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s