Kapan Beli Buku?

Kapan beli buku ???

Pertanyaan itu memang ditujukan kepada saya. Berulang kali jawaban saya lontarkan, terkait buku yang ingin sekali dibeli dan rentang waktu kira-kira kapan beli. Namun, semua hanya tinggal wacana saja. Beginilah….

Beginilah orang yang suka baca, tapi nggak pernah beli buku.

Setelah saya mengingat kembali, saya suka baca sejak kecil. Usia berapa saya lupa, mungkin setelah saya bisa baca. Yang awalnya hanya senang lihatin gambar-gambar, bisa baca tambah seneng karena bisa ngertiin makna ceritanya satu-satu. Saya ingat-ingat terus sampai sekarang, ibuk sering banget beliin saya majalah bobo sama mentari dan bacaan lainnya. Biasanya ibuk bawa sebagai oleh-oleh. Ingat pula, ketika naik kereta api jaman dulu saya selalu minta dibelikan buku cerita karena masih banyaknya asongan.

Seneng banget tiap kali dapat buku baru. Sampai saya baca berulang-ulang atau saya lambat-lambatin bacanya biar nggak keburu habis ceritanya. Maklum, ibuk nggak bisa setiap waktu membelikan buku buat saya. Dikarenakan saya masih suka haus bacaan, buku pegangan bahasa Indonesia tepatnya tiap kisah atau cerita di sana selalu saya baca. Apalagi bacaan lengenda setiap daerah. Batu menangis, itu salah satu cerita favorit saya.

Kala itu ekonomi keluarga nggak bisa dibilang baik. Bapak sama ibuk juga udah mulai renggang, nggak patut sekiranya saya minta uang jajan lebih buat beli buki bacaan. Maka dari itu, saya harus memanfaatkan perpustakaan sebagian sumber buku bacaan. Suka banget pinjem dan baca-baca novel remaja (teenlit). Jaman belum secanggih ini, jadi buku fisik jadi kesenangan utama sebagai penghibur.

Namun, kerap sekali buku atau novel di perpustakaan itu kurang up to date. Alhasil saya kerap iri ke temen-temen bila beli novel dan baca cerita-cerita baru. Saya berani pinjem jika itu teman dekat atau anaknya enakan buat dipinjemi novel hehe. Maklum saya semasa SMP adalah anak super pemalu alias cupu seantreo sekolah. Bahkan, satu angkatan saya yang masa SMAnya satu sekolah sama saya baru tahu kalau kita satu almamater semasa SMP. Berat, berat…..

Oke kembali lagi….

Semasa SMA masih sama, memanfaatkan perpustakaan dan hanya pinjem ke temen saja. Baik sekali, saya saja yang nggak pernah tahu diri hehe. Namun, sempat beberapa waktu lamanya saya mulai menghilangkan kebiasaan membaca karena saat itu saya disibukkan dengan berbagai organisasi. Bermain dan interaksi dengan teman lebih menarik buat saya ketimbang membaca. Masa SMA tetaplah menjadi masa terindah bagi saya hehe.

Kuliah kembali harus bergelut dengan membaca dong. Secara saya mengambil jurusan bahasa Indonesia yang nggak bisa lepas sama keterampilan berbahasa, menulis dan membaca salah satunya. Tapi, bukan berarti saya anaknya nyastra banget. Jauh dari kata itu haha. Maklum, saya pernah ngerasain kuliah jurusan ini nggak sesuai sama saya. Bikin saya frustasi juga haha. Apalagi awal-awal saya harus melahap sastra lama. Jangan ditanya gimana pusingnya saya membaca ejaan lama. Sampai sekarang pun jika dibandingkan dengan teman-teman sejawat, pengatahuan sastra saya masih kalah jauh hiks.

Semua kesenangan masih berlanjut, tapi nggak nentu rentangnya. Kadang rajin, kadang nggak (banyak nggak sih hehe). Kesenangan membaca ini juga belum mencapai berapa puluh bacaan dan berapa ratus buku yang dibaca setiap tahunnya.

Karena kebiasaan membaca naik turun itu, kebiasaan membeli buku pun tak masuk prioritas saya. Kalau dibilang iri dan kepengen beli buku sendiri dan kebiasaan baca makin baik, ya pengen banget. Rencana-rencana tersebut ada, namun tak pernah terealisasikan. Meminjam buku tetap menjadi solusi terbaik buat saya. Bisa dihitung berapa kali saya beli buku. Itupun kadang tak sempat saya baca. Saya membeli hanya ingin menambah koleksi. Maka saya mengubah kembali rute akan niat beli buku. Saya akan membeli kepada buku yang benar-benar saya inginkan.

Nyatanya sampai sekarang membeli buku tetap menjadi angan dan hanya beberapa terealisasikan. Meminjam menjadi hal terseru untuk membendung hasrat membaca saya.

Kadang saya geleng-geleng kepala juga. Anak sastra kek saya bukunya dikit banget, sedangkan teman-teman saya bukunya bertumpuk-tumpuk. Yang ada di rak hanyalah buku kuliah yang entah saya buka kapan. Eh baru kembali saya sentuh ketika saya kuliah lagi.

Sisihkan pendapatan dong !!

Intinya, kalah sama yang namanya jajan, kebutuhan mendadak, dan kebutuhan wanita haha. Semua hanya hasrat tanpa niat dan akhirnya berujung wacana. Menyatakan alibi lebih mudah daripada mewujudkan wacana.

Jadi bagaimana?

Anak kos seperti saya lagi-lagi akan mencari alibi, menghilang hingga menjadi wacana. Tapi,memang saya punya keinginan untuk itu. Ingin segera merealisasikan sebagian uang saku berakhir pada pembelian buku. Apalagi Malang, nggak susah buat cari-cari buku dan beragam pula. Hanya bagaimana mengatur uang saku, harus saya rencanakan matang-matang untuk hal itu.

Curhat panjang selama perjalanan Blitar-Malang dengan kereta api.

Advertisements

17 thoughts on “Kapan Beli Buku?

  1. Awalnya aku pernah mikir buat apa belanja buku toh nanti nggak akan kepake lagi kalau udah selesai dibaca. Tapi ternyata makin ke sini makin sadar kalau buku bisa diinvestasikan ke anak cucu. Setelah kesadaran itu tumbuh, akhirnya aku rutin beli buku (dan dibaca juga lho ya haha) malah jadi gila banget sebulan bisa habis 500ribu lebih.

    Liked by 3 people

  2. Beli buku kalau sudah tidak ada yg bisa saya pinjamin Kak πŸ˜‚

    Majalah Bobo itu legend, buat saya benar-benar teman bermain dan belajar.
    Jadi teringat masa SMA yg haus akan bacaan, buku sastra sekali pun tak peduli bahasanya berat, dibaca juga.
    Kalau jaman sekarang enak nya banyak sekali buku-buku bagus berkualitas, begitu pun banyak bermumculan para penulis hebat di Indonesia. Yang dibutuhkan adalah kerelaan untuk menyisihkan uang untuk beli buku yang kadang menguras kantong πŸ™ˆπŸ˜

    Liked by 1 person

    1. Kalau kamu kasih tawaran kek gitu aku akan dengan senang hati menerima πŸ™‚

      beneran yaa Bobo itu legend banget. Skrang kek nya sekitar 15 ribuan… duh aku kalah sama kamu yaa hahaha

      Liked by 1 person

  3. Ikut kuis juga bisa, Kak Ve. Hahaha. Pernah juga menang kuis giveaway gitu hadiahnya buku. Dapet 2x :p
    Tapi ya harus aktif di sosmed. Kak Ve kan wes gak mainan sosmed.
    Kalau aku sekarang beli buku kalau yakin akan dibaca. Jadi nggak nyetok buku. Beli, habisin, beli lagi. Haha

    Liked by 1 person

  4. Iya kak, kalau kita deketan, seru bisa saling meminjam buku ya 😊

    Iya, mahal πŸ˜‚πŸ˜‚
    Kalau lagi kangen Majalah Bobo, saya kadang beli yang bekas tapi masih bagus, lumayan setengah harga, beli lewat tokopedia, karena tempat langganan beli Majalah entah pindah kemana πŸ˜…

    Like

  5. Asyik punya hobi baca sejak kecil kayak mbak vera. Aku baru mulai suka baca sejak kuliah. Pas sekolah sukanya main outdoor. Alhamdulillah sampe sekarang beli sendiri terus hehehe. Habis dibaca taruh diperpus. 😊

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s