Malang Memberikan Ruang untuk Sendiri

Ada sisi dari diri saya menyukai aktivitas sendiri. Saya terkadang memang nggak bisa disatukan dengan orang lain. Mungkin kalian yang mengenal saya tak cukup percaya karena saya terlihat enjoy-enjoy saja dengan lingkungan dan memiliki banyak teman. Nyatanya, saya terkadang menyukai kesunyian, kesendirian demi membuat saya nyaman.

Contohnya, saya memilih untuk menempati kamar kos sendiri daripada harus berbagi dengan orang lain. Kemudian, saya memilih untuk mengerjakan tugas sendiri daripada bersama di sebuah perpustakaan kecuali kerja kelompok. Saya memilih untuk makan sendiri dengan menonton film atau vlog kesukaan. Bahkan saya memilih untuk bepergian sendiri saja.

Yah, Malang memberikan ruang-ruang sendiri saya tersebut.

Saya bisa bepergian sesuka diri tanpa harus minta antar orang lain. Saya bisa menjelajah tempat sendiri tanpa takut kesasar karena salah satunya adalah banyaknya angkutan umum di sini. Saya bisa mengendarai motor, tapi saya lebih nyaman dan merasa aman ketika saya dibonceng. Dan ini adalah kebiasaan saya ketika di rumah. Jadi, saya lebih sering keluar dengan adek atau teman. Sesekali memang mengendari sendiri dengan penuh imajinasi liar saat berkendara.

Tapi, hal itu kalah sensasi dengan apa yang saya dapat di Malang. Saya bisa bepergian sendiri dengan angkutan. Beda halnya dengan Blitar yang jarang sekali angkutan. Kota kecil dengan banyak penduduknya mayoritas memiliki kendaraan pribadi, motor.

Sejak saya memutuskan untuk tinggal di kos yang jauh dari kampus sampai sekarang kembali ke kos lama, saya menemukan nikmatnya zona nyaman yang saya ciptakan. Berkat setiap hari pulang-pergi kuliah naik angkot, saya makin demen bepergian sendiri. Hal itu awal melatih saya untuk lebih-lebih mandiri karena sebelumnya banyak mengandalkan diri dengan orang lain. Saya dulu hampir setiap hari nebeng temen buat ke kampus dan rasanya nggak enak banget.

Saya menikmati setiap perjalanan saya. Baik dia kereta api atau angkot. Yang lebih sering ya di angkot ya, makanan saya sehari-hari walau sekarang saya lebih sering memanfaatkan ojol. Saya menikmati setiap momen naik angkutan, memandang jalanan yang dilewati, mengamati gerak-gerik segala aktivitas orang ketika di angkot, mendengarkan musik sembari pikiran berlarian liar, sampai dengan cukup diam saja.

Seperti hari ini saya memilih kembali menikmati perjalanan itu dengan angkutan umum. Angkot yang sekarang tak banyak beroperasi seperti dua tahun lalu, kalah dengan eksistensi ojol.

Saya akan memesan tiket kereta api untuk kepulangan saya minggu depan. Saya tetap memilih untuk memesan di Stasiun Malang Kota Lama karena pelayanan cepat. Namun, usaha antre tiket berganti dengan jarak tempuh. Ingin memanfaatkan ojol, tapi harganya cukup mahal untuk saya. Bisa saya gunakan biaya hidup dua sampai tiga hari ke depan.

Sejak dari pagi saya sudah bersiap-siap untuk pergi. Bukan saya terburu untuk pesan tiket, tapi saya lebih antusias karena pergi sendiri dan naik angkot. Perlengkapan menunjang perjalanan yang saya tunggu sejak kemarin saya persiapkan. Saya sarapan dulu, bawa headset, kemudian bolpoin, dan slimbag serta memilih memakai sandal. Jarak dari pemberhentian angkutan dan stasiun nantinya harus saya tempuh dengan jalan kaki, jadi butuh tenaga dulu untuk jalan.

Rencananya saya akan menikmati perjalanan dengan mendengarkan musik dengan headset yang saya bawa. Nyatanya, justru nggak saya putar lagunya karena saya memilih tenggelam dalam perjalanan, menikmati. Di satu angkutan saya bersama empat mahasiswa yang saya dengar sekilas dari obrolan, mereka akan nonton The Nun yang emang lagi booming ya. Kemudian satu ibu berbadan agak gemuk menenteng tasnya. Seorang bapak yang memilih tidur sejak menapakkan diri di kursi penumpang. Dua ibu-ibu dengan segala kekhasan nada bicaranya pendombrak keheningan. Seorang kakek dan cucunya yang ternyata satu arah sama saya . Di bangku depan dekat supir, dua wanita yang saya rasa bukan dari Jawa dari logat bicaranya.

Berjalan dengan pemandangan kesibukan pagi Kota Malang. Kendaraan yang mulai riuh berebut rute. Saya berjalan di sepanjang kawasan pasar loak Malang Kota Lama. Yang buat saya agak terganggu, pun agak takut adalah akses untuk pejalan kaki kurang, cukup memprihatikan. Trotoar cuma separo, mau jalan dihalang motor nyilip ke arah saya.

Namun, pagi tadi saya puas menikmati perjalanan singkat. Walau saya berpanas-panasan, hitung-hitung olahraga dengan kaki nan tegar banget buat diajakin jalan jauh, serta terik matahari semakin menambah esensi perjalanan saya.

Perjalanan dari Malang Kota Lama ditutup dengan seporsi nasi goreng dan sosis goreng plus segelas es teh manis buatan saya.

Advertisements

8 thoughts on “Malang Memberikan Ruang untuk Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s